JAKARTA, Globalinformasi.id – Di saat tensi geopolitik dunia kian memanas dan bayang-bayang perang global mulai mengancam stabilitas energi serta ekonomi, Indonesia justru berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, Indonesia dinilai bukan sekadar penonton, melainkan pemain kunci yang memiliki “tameng baja” untuk bertahan dari guncangan luar.
Pakar hukum dan pengamat kebijakan, Dr. Suriyanto Pd, SH., MH., M.Kn, menegaskan bahwa kepanikan bukanlah opsi bagi Indonesia. Menurutnya, posisi strategis dan cadangan alam yang kita miliki adalah modalitas utama yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Tiga Pilar Kekuatan: Energi, Material Kritis, dan Pangan
Dalam catatan strategisnya, Dr. Suriyanto membedah tiga sektor utama yang menjadi penyangga ketahanan nasional jika konflik global pecah:
- Energi Primer: Ketersediaan batu bara, gas alam, dan migas yang melimpah menjamin napas industri domestik tetap berdenyut.
- Material Kritis Dunia: Dominasi Indonesia atas nikel (cadangan terbesar dunia), bauksit, tembaga, dan timah menjadikan posisi tawar kita sangat tinggi dalam rantai pasok teknologi masa depan.
- Kedaulatan Hayati: Potensi kelautan serta komoditas pertanian seperti sawit, tebu, dan singkong memberikan jaminan pangan dan bioenergi yang mandiri.
“Indonesia tidak perlu takut, tetapi pemerintah tidak boleh lengah. Kekayaan alam adalah pondasi, bukan benteng yang bisa dibiarkan begitu saja tanpa pengelolaan yang cerdas,” tegas Dr. Suriyanto.
Strategi ‘Anti-Guncang’ bagi Pemerintah
Meski kaya, Dr. Suriyanto mengingatkan bahwa potensi tersebut harus dikunci dengan kebijakan konkret agar tidak hanya menjadi “harta karun” yang tak terurus. Ia menyoroti beberapa langkah darurat yang harus dipercepat:
- Lumbung Energi: Meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM, LPG, dan avtur di pelabuhan-pelabuhan strategis untuk menghadapi anomali distribusi global.
- Akselerasi EBT: Mempercepat transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai antisipasi jika harga komoditas fosil dunia melambung tinggi.
- Diplomasi Non-Blok: Menjalankan strategi diversifikasi impor dan diplomasi energi yang fleksibel, tanpa bergantung pada satu blok kekuatan politik dunia.
-
Hilirisasi: Kunci Menuju Kemandirian
Kunci utama agar Indonesia tetap stabil adalah konsistensi dalam hilirisasi. Dr. Suriyanto menekankan bahwa pengolahan bahan mentah di dalam negeri adalah satu-satunya cara untuk menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat pasar domestik.
“Jika terjadi darurat energi, subsidi harus tepat sasaran. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah adalah harga mati untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas industri,” tambahnya.
Dengan pasar domestik yang masif dan strategi yang adaptif, Indonesia diprediksi mampu melewati badai konflik global dengan kepala tegak. Indonesia bukan lagi sekadar negara yang bertahan, melainkan kekuatan ekonomi yang mandiri dan disegani dunia.
(Redaksi)













