MUBA, INDONESIABERSATU.ID – Di bawah terik matahari Sungai Lalan, ada momen dramatis yang menegaskan kembali arti kehadiran Polri. Seorang warga yang lemah tak berdaya harus segera dievakuasi dari dalam speed boat berkapasitas 200 PK yang baru saja bersandar.
Tanpa menunggu ambulans atau tandu, personel Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Polairud) Polres Musi Banyuasin, Bripka H. Ade Wahyu, langsung mengambil alih. Dengan cekatan dan penuh tanggung jawab, ia menggendong tubuh warga sakit tersebut di pundaknya, membawanya meniti jembatan dermaga darurat demi memastikan pertolongan medis segera didapatkan.
Aksi spontan yang mengharukan ini terekam di Dermaga Pos Pangkalan Sandar Kapal P2 Sungai Lalan pada Sabtu (25/10/2025) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, di bawah komando Kasat Pol Airud AKP Suventri, S.H.
Kecepatan dan kepedulian Bripka Ade Wahyu menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat perairan. Jefris, salah satu warga setempat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Jarak di sini jauh dari mana-mana, dan kondisinya (warga sakit) sudah lemas. Kami sangat lega, Pak. Aksi menggendong itu bukan cuma membantu, tapi membuat kami merasa dihargai dan punya pelindung. Personel Polairud benar-benar cepat tanggap. Mereka bukan hanya menjaga keamanan perairan, tapi juga menjaga nyawa kami,” ungkap Jefris.
Aksi yang penuh nilai kemanusiaan ini adalah cerminan dari semangat Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) dalam setiap pelayanan Polri. Kasi Humas IPTU Hutahean, mewakili Kasat Pol Airud Polres Muba, menekankan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari tugas harian.
“Ini adalah panggilan tugas dan nurani. Personel Airud kami selalu siap melayani dengan hati, terutama di wilayah perairan yang aksesnya sulit. Kehadiran kami di perairan harus mampu menjadi solusi, bukan sekadar penegak hukum,” tegas IPTU Hutahean.
IPTU Hutahean juga menambahkan bahwa pangkalan sandar di Muara P2 Sungai Lalan didedikasikan sepenuhnya untuk masyarakat. “Sat Pol Airud telah mengubah fungsi dermaga ini. Darmaga ini kami jadikan sebagai darmaga umum. Ini mempermudah akses masyarakat perairan, khususnya sebagai jalur evakuasi darurat untuk kasus sakit atau kecelakaan, agar mereka tidak perlu lagi kesulitan mencari tempat sandar saat membutuhkan pertolongan cepat.”
(AP)













